“Tugas saya ya dikerjakan. Tapi saya tidak akan cari-cari kerja tambahan. Sudah cukup capek.” — ASN usia 52 tahun, eselon III, menjelang masa pensiun.
Fenomena “Menunggu Waktu”
Di banyak kantor pemerintahan, kita sering mendengar keluhan atau candaan seperti:
"Sudahlah, tinggal 5 tahun lagi pensiun. Ngapain repot-repot."
Atau: "Biar yang muda aja yang semangat, saya bagian mendukung dari belakang."
Fenomena ini bukan sekadar keengganan bekerja, tapi juga cermin dari budaya birokrasi yang belum sepenuhnya memberi ruang makna bagi ASN menjelang pensiun.
Antara Realita dan Stereotip
"Tidak semua ASN senior kehilangan semangat. Banyak dari mereka yang tetap aktif, menjadi mentor, bahkan penggerak inovasi pelayanan. Tapi sayangnya, stereotip ASN senior sebagai 'penunggu pensiun' terlalu kuat dan kadang tidak adil."
Sementara itu, sebagian ASN memang benar-benar kehilangan semangat — bukan karena malas, tapi karena:
- Sudah merasa kontribusinya tidak akan lagi dilihat
- Tidak punya ruang aktualisasi
- Sudah terlalu sering dikecewakan sistem
![]() |
| Sumber Foto: https://pojokbanua.com/ |
Lelah yang Terakumulasi
Bayangkan bekerja 25–30 tahun di sistem yang sering berubah arah, namun jarang berubah kultur. Di tengah tekanan politik, kurangnya penghargaan atas inisiatif, hingga ketidakpastian jenjang karier menjelang akhir masa kerja. Wajar bila ada yang merasa ingin "menepi saja".
Namun di sinilah kita harus bertanya:
"Apakah ini semata salah individu, atau cerminan dari sistem yang tidak memberi insentif bagi mereka yang tetap menyala sampai akhir?"
Potensi Besar yang Terlupakan
Padahal, ASN senior menyimpan:
- Jaringan informal yang kuat
- Kebijaksanaan menghadapi dinamika lapangan
- Memori institusional yang tak tergantikan
Namun, banyak dari mereka hanya jadi “penjaga meja”, bukan “penyala obor”.
"Jika ASN muda adalah bensin, ASN senior adalah api yang stabil. Tapi sistem justru membiarkan api itu perlahan padam."
Solusi: Dari Pasif Menuju Peran Strategis
1. Program “Mentor ASN” - Jadikan ASN menjelang pensiun sebagai mentor aktif bagi generasi muda. Beri insentif bukan hanya finansial, tapi juga pengakuan moral dan sosial.
2. Peta Karier Menjelang Purna - Alih-alih dibiarkan stagnan, ASN senior bisa diberikan tantangan berbasis pengalaman—misalnya mendampingi daerah tertinggal, menyusun kebijakan lintas sektor, atau jadi fasilitator pelatihan.
3. Ruang Apresiasi Bukan Sekadar Seremoni - ASN yang menyala hingga pensiun harus ditampilkan sebagai role model, bukan sekadar diberi piagam formal saat hari terakhir kerja.
4. Persiapan Emosional dan Intelektual Pensiun - Purna tugas bukan akhir hidup. ASN senior perlu disiapkan menghadapi peran sosial berikutnya, sebagai pemikir, penggerak lokal, atau penasihat kebijakan.
![]() |
| Sumber Foto: https://www.antaranews.com/berita/3103597/ |
Refleksi Penutup
Tak sedikit ASN yang punya potensi luar biasa, tapi akhirnya tenggelam dalam ruang sunyi menjelang pensiun.
"Karena tidak diberi peran, akhirnya memilih diam. Karena tidak lagi dilibatkan, akhirnya merasa tidak dibutuhkan."
"Padahal, birokrasi yang matang adalah birokrasi yang merayakan awal dan akhir pengabdian dengan setara."
Mari jangan lagi kita biarkan ASN hanya “menunggu waktu” — karena bangsa ini masih butuh mereka yang berpengalaman, jernih, dan tetap bernyala, bahkan di tahun-tahun terakhir masa dinasnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar